• RSS

Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah dimana. Cara itulah yang bermacam-macam dan disanalah harga kreativitas ditimbang-timbang ~ SENO GUMIRA AJIDARMA

  • Journey

    Cerita perjalanan yang tak melulu soal "have fun" tapi juga tentang petualangan di hiruk pikuknya Ibu Kota... Let's ENJOY JAKARTA!

  • Hoby

    Mengurai ketegangan urat saraf, membuang jauh jenuh dan bosan, berdamai dengan realita, yuks... mencoba dan melakukan "sesuatu"

  • Share

    Tulislah... setidaknya agar anak cucumu tau kalau kamu juga punya masa lalu, karena menulis itu membuat kita hidup 1000 tahun...

  • Hampir setengah jam aku melamun. Pikiranku berkeliaran entah kemana meski fisiknya berada disini, di ruang kelas yang tak seperti biasanya hening dan sunyi. Suasana yang semakin membuat aku larut dalam kecemasan. Tapi aku berusaha menenangkan diri dan meredakan emosi sebelum terbawa arus kepanikan. Setidaknya aku harus bertahan hingga ujian hari ini berakhir. Kupendarkan pandangan keberbagai arah, memperhatikan siapa saja diluar sana.

    Dari bangku baris ketiga dideret nomor dua dari pintu, aku dapat melihat jelas seorang staf tata usaha berjalan menyusuri lorong membawa setumpuk map hijau. Lalu disisi lain ketika ku tengok ke arah lapangan, seorang lelaki tua masih sibuk menyapu daun-daun kering di beberapa sudut.

    Seketika lamunanku terhenti saat Ardi mencolek bahuku dari belakang. Perlahan ku gerakkan kepala ke arahnya. "Dua Belas", katanya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun tapi dari gerak bibirnya aku bisa membaca itu. Aku menggeleng dan berbisik "belum" sambil kuangkat dan kuperlihatkan padanya lembar jawaban yang masih kosong dan belum terisi satupun.

    Berbagai aksi kreatif teman-teman bertukar jawaban sudah sangat ku hapal. Dari kode-kode jari yang menandakan pilihan a, b, c, d atau e. Bahkan sampai berbagi catatan-catatan kecil yang disembunyikan di berbagai tempat. Walau beberapa kali Bu Qory, pengajar sekaligus pengawas ujian Bahasa Inggris kami berdiri dan berkeliling. Namun matanya masih kurang lihai menjaga kami dari tindakan tidak terpuji itu.

    Empat puluh menit lebih pun berlalu sejak dimulainya ujian ini. Aku lihat ke sudut meja, masih teronggok lembar soal yang sama sekali belum ku sentuh. Moodku hilang dan semangatku lenyap, semua yang sudah kupelajari semalam menjadi tidak berguna. Spontan tanganku meraih lembar soal itu ketika Bu Qory berjalan ke barisanku. Layaknya sebuah brosur namun berbeda ukuran saja, kertas A4 3 lipat ini kubentangkan memenuhi meja. Pandanganku kini ke lembar soal di atas meja, fokus dan tak berkedip. Bukan karena aku membaca soalnya. Tapi hanya untuk mengalihkan perhatian Bu Qory. Aku tidak ingin ia tau kalo aku belum mengerjakan satupun soal sedari tadi. Entah kenapa aku masih tidak berniat untuk mengerjakannya.

    "Waktunya 20 menit lagi yaa", kata Bu Qory mengigatkan kami. "Periksa kembali kertas jawabannya", lanjutnya.

    Apa yang harus diperiksa? sedangkan diisi aja belum, pikirku. Satupun soal memang belum kukerjakan. Dan anehnya tidak ada kekhawatiran sedikit pun. Usahaku menenangkan diri begitu memakan waktu hingga menelantarkan ujian kenaikan kelas ini. Meredam emosi memang bukan perkara mudah bagiku, entah karena usia yang tergolong masih labil. Atau karena terlalu memikirkan apa yang sedang terjadi.

    Ku ambil lembar soal yang sedari tadi terbentang di mejaku lalu kulipat kembali soal itu. Ku ambil lembar jawaban kemudian ku kaitkan ke papan ujian. Pensil 2B yang belum sempat aku serut membantu menghitam-hitamkan lingkaran kecil pada lembar jawaban itu. Satu demi satu lingkaran telah menjadi hitam dengan sendirinya.

    Tanpa membaca soal sama sekali, jari-jariku berkomplot dengan pensil menentukan lingkaran a, b, c, d atau e yang selanjutnya akan dihitamkan. Alhasil kurang dari 10 menit 50 lingkaran itu sudah menghitam. Yup selesai sudah ujian ini. Aku tidak peduli jika nilai bahasa inggris jelek. Sama sekali tidak peduli! bahkan jika raport-ku merah karenanya.

    Aku berjalan keluar meninggalkan ruang ujian. Bel tanda ujian berakhir pun berbunyi. Berkali-kali aku menghembuskan napas panjang sembari menatap langit. Hatiku berkali-kali beristigfar. Berjalan terus entah kemana dan mataku terus menatap keatas. Bukan semata-mata karena menatap langit tapi untuk menahan tangis yang tertahan. Mencoba terus melunturkan emosi meski hati belum siap menghadapi kenyataan yang akan kulihat dirumah. Aku memilih jalan yang tidak biasanya, memperpanjang ruteku dan memelankan langkah kaki.

    Langit siang ini sangat cerah, kecerahannya mampu membuatku sedikit tenang. Warna birunya menentramkan hati dan pikiran kacauku. Karena apa yang kudengar pada jam istirahat tadi, sukses mengaduk-aduk perasaan dan moodku hari ini. Kabar yang kuterima dari ibuku, suasana dirumah memanas, keadaannya berantakan dan siang ini juga kami harus keluar.

    0 comments:

    Post a Comment