• RSS

Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah dimana. Cara itulah yang bermacam-macam dan disanalah harga kreativitas ditimbang-timbang ~ SENO GUMIRA AJIDARMA

  • Journey

    Cerita perjalanan yang tak melulu soal "have fun" tapi juga tentang petualangan di hiruk pikuknya Ibu Kota... Let's ENJOY JAKARTA!

  • Hoby

    Mengurai ketegangan urat saraf, membuang jauh jenuh dan bosan, berdamai dengan realita, yuks... mencoba dan melakukan "sesuatu"

  • Share

    Tulislah... setidaknya agar anak cucumu tau kalau kamu juga punya masa lalu, karena menulis itu membuat kita hidup 1000 tahun...

  • Hari itu (19 Agustus 2013) aku pulang malam dari daerah Slipi. Belum terlalu malam sih sekitar jam 6 sore. Angkutan umum favorit kerumah kalo dari Slipi yaitu bus sejuta umat, tidak lain dan tidak bukan adalah 213. Namun karena hari itu bukan hari kerja jadi tidak terlalu padat meskipun aku tetap tidak dapat duduk. Perjalanan malam Slipi sampai Kp Mlayu Alhamdulillah amaaannn. Aku turun di pasar Jatinegara tepatnya pasar ikan depan toko busana. Harusnya sih aku turun di bawah jembatan yang lokasi itu biasa disebut Bogor, tapi karena bus keburu berhenti disana yaudah akupun ikut turun.

    Masih sore jadi lokasi itu masih agak ramai namun para pedagang kaki lima sepanjang kawasan PGJ hingga Bogor itu sudah menutup lapaknya. Jadi bisa dibilang ga terlalu ramai dan ga terlalu sepi. Dari tempat aku turun, aku terus berjalan ke depan mencari angkutan umum selanjutnya. Dan aku lihat ada beberapa angkutan umum yang ngetem disana seperti Metromini 506 dan 50, Mikrolet 31 dan 27. Sedangkan angkutan umum yang ingin aku tumpangi adalah Mikrolet 32. Aku terus berjalan ke depan sampai akhirnya angkutan umum yang aku cari ketemu. Mikrolet dengan nomor trayek 32 ini lagi ngetem santai nungguin penumpang yang waktu itu baru ada sepasang remaja didalamnya. Keduanya duduk di bangku 4. Lalu aku masuk kedalam dan duduk dibangku 6 persis dibelakang supir berhadapan dengan pintu masuk.

    Sudah hampir 2 tahunan aku tidak pernah pulang malam. Jadi jam 7 ini buat aku rasanya sudah malam sekali, suasananya hening, sepi sehingga buat aku sangat berhati-hati dan was-was. Aku pindahkan tas ranselku ke depan, lalu ku taruh dibangkuanku. Aku melirik kesekitar untuk memastikan tidak ada gerak gerik mencurigakan. Pandanganku terus tertuju ke luar pintu Mikrolet, melihat satu persatu penumpang yang naik. Sampai selang beberapa menit kemudian seorang lelaki kurus sekitar 40-an tahun usianya berpakaian tidak rapi dan sedikit kumal. Dia dengan rambut acak-acakan dan berjanggut duduk disamping aku namun tidak terlalu dekat karena di bangku 6 itu baru berisi 2 orang, aku dan dia. Aku berusaha untuk tidak berpikir buruk, tapi entah kenapa hati ini menaruh curiga pada penumpang disamping ini. Awalnya dia berkata kepada sepasang remaja didepannya utk menutup jendela dibelakang mereka.

    Tak berapa lama naiklah seorang laki-laki berperawakan gemuk. Ketika penumpang ini naik, lelaki kurus yang dari tadi ada disamping aku bergeser mendekat ke arahku. Ya dekat sekali, dia mendesakku hingga aku benar-benar terpojok. Hingga tak sadar angkutan umum ini telah terisi penuh baik bangku 6, bangku 4, bangku 2 yang berada disamping pintu dan bangku 2 didepan. Mikrolet ini pun segera melaju cepat meski agak tersendat didepan stasiun Jatinegara hingga Kodim karena setiap sore hingga tengah malam pedagang kaki lima berjualan disana. Rasa tidak nyamanku makin menjadi ketika laki-laki disamping ini mulai berbincang denganku.

    "Pulang kerja mba?"
    "Bukan pak"
    "Pulang kuliah?"
    "Ga juga koq"
    "Trus dari mana dong?"
    "Maen sama temen"
    "Seru dong bisa kumpul-kumpul sama temen"
    "Ya gitu deh"

    Saking ngerasa ga nyamannya, aku menjawab singkat-singkat dan sesekali saja aku melihat kearahnya. Namun lelaki itu masih terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepadaku.

    "Tapi udah kerja apa masih kuliah?"
    "Udah kerja"
    "Perusahaan besar apa perusahaan kecil?"
    "Perusahaan kecil"
    "Ada lowongan GM ga?"
    "Apa pak?" Tanyaku heran sekaligus meyakinkan pendengaranku kalo barusan dia tanya soal posisi GM.
    "Iya GM, General Manager" sahutnya, "saya baru keluar dari kerjaan kemaren, sekarang lagi cari-cari kerjaan" sambungnya lagi.

    Pertanyaan dia kali ini menyadarkanku kalo orang disamping ini "ada sesuatu". Mana ada orang cari kerja langsung posisi GM? Kalo ada lowongan untuk posisi itu pun biasanya ditempati oleh orang yang memang sudah berdedikasi lama di perusahaan itu. Meski males banget untuk menanggapi orang ini tapi aku berusaha untuk tetap tenang.

    "Aku ga tau soal lowongan itu pak."
    "Ouhh.."
    "Rumahnya dimana mba?"
    "Buaran" jawabku asal
    "Saya di Malaka, kamu udah lama di Buaran?"
    "Udah"

    Lelaki itu terus melancarkan serangan pertanyaan yang buat aku mulai kesal dan jengkel. Aku melihat keluar dan mengamati sudah sampai dimana ini? Niat aku sudah bulat untuk segera turun tapi aku harus mencari lokasi yang ramai. Karena ini masih di Penjara Cipinang dan aku ga mungkin turun disini. Sepanjang jalan ini banyak sekali wanita-wanita malam yang sedang menanti orderan. Sehingga masih ku urungkan niatku untuk turun. Dan masih aku sabar-sabarin mendengarkan lantunan pertanyaan dari lelaki ini.

    "Udah nikah belum mba?"
    "Blum" jawabku jengkel karena semakin bingung aku menanggapi berondongan pertanyaannya ini.
    "Saya juga baru kemaren cerai…"

    Wahhh maksudnya apa nih? Sepertinya perasaan ga nyamanku dari tadi terjawab. Lelaki ini sepertinya punya niatan buruk. Aku sudah memalingkan muka ke arah supir dan benar-benar membelakangi mukanya. Dan kali ini aku sama sekali tidak menanggapi pertanyaannya.

    "Buarannya dimana?"
    "Boleh dong kapan-kapan saya maen kerumahnya?"
    "Bapaknya galak ga?"

    Aku sadar orang sekitar aku juga dari tadi memperhatikan kami, lelaki itu dengan pertanyaan- pertanyaan yang mencurigakan dan aku yang acuh tak acuh menjawab pertanyaannya. Yang aku ingat betul mas-mas yang duduk di bangku depan beberapa kali menengok kebelakang kearah ku sepertinya ingin melihat ada apa sih dibelakang?

    "Merid kayanya enak nih mba", tiba-tiba dia melontarkan pernyataan seperti itu.

    Glekkk, apa kata lu??? Hmmm aku yakin penumpang sekitarku mendengarnya, tapi mereka bingung bagaimana mau menolongku, hehehe. Tapi aku tau mereka mengawasiku kalau-kalau akan terjadi sesuatu.

    Mikrolet ini ternyata akan segera sampai ke daerah Cipinang Elok. Dan yang aku tau disini ada toko kue yang cukup rame. Sepertinya lebih baik kalo aku turun saja disini, dan menunggu Mikrolet selanjutnya karena lokasi ini masih cukup jauh dari rumahku. Lalu aku segera menyiapkan uang 3 ribu dari sakuku dan memberikan uang itu ke supir seraya berkata "kiri depan ya bang". Si abang supir yang dari tadi pasti mendengar percakapan kami, dia hanya bilang "iya neng".

    Lelaki itu msh sempat bertanya "turun disini mba?". Tanpa mempedulikannya lagi aku melesat keluar secepat kilat. Untung saja lelaki itu tidak ikut turun disana.

    Mikrolet 32 berikutnya yang aku tunggu tak kunjung datang, aku berjalan bolak balik tak sabar sembari menenangkan hatiku. Walau tempatku ramai tapi aku masih saja gelisah mengingat apa yang baru saja terjadi. Bagaimana kalau lelaki tua itu tiba-tiba ada dihadapanku, bagaimana kalau ternyata dia turun didepan? Pikiran-pikiran seperti itu makin membuat aku kalut. Kekhawatiran dan ketakutanku mungkin terlihat jelas dari raut muka dan sikapku.

    "Nunggu angkot apa mba?" terdengar ada suara yang bertanya kepadaku, "naik ojek aja mba…" lanjutnya.

    Ku tengok ke arahnya, dan yang berbicara kepadaku memang seorang tukang ojek yang sedang menunggu penumpangnya.

    "Ga bang udah deket..." jawabku.
    "Abis nangis ya mba?" tanyanya lagi.
    "Ga bang… emang kenapa?" sahutku kesal.
    "Saya tau mba keliatan dari matanya walaupun mba coba tersenyum"

    Haduhhh apa lagi yang aku hadapi ini? Belum aja tenang perasaanku, didepanku sudah ada yang aneh-aneh lagi.

    "Jangan sotoy ya bang" kataku agak kasar.
    "Wanita itu suka menyembunyikan sedihnya dalam senyum, abis diputusin pacarnya ya mba?"

    Aku memalingkan wajah darinya dan melihat ke arah jalan raya untuk memastikan apakah angkot yang aku tunggu ada atau tidak. Namun sayangnya belum ada juga angkotnya. Hufff aku menarik napas panjang, mencoba bersabar dan bersikap tenang.

    "Kalau lelaki itu jujur ketika mereka menangis, tapi kalau wanita itu jujur ketika mereka tersenyum" tukang ojek itu kembali berteori.

    Ya Allah, ini orang kenapa sih? Teori dari mana asalnya itu? Hahahaha rasanya ingin menertawai hariku. Pertama ketemu "tua2 keladi" yang ngajak merid, sekarang ketemu tukang ojek galau yang penuh teori cinta hasil karya ciptanya.

    Malamku terselamatkan ketika Mikrolet 32 lewat didepanku dan tak berlama-lama aku segera naik di bangku depan samping supir.

    Tepat jam 8 malam Alhamdulillah aku telah sampai di Rumah. Pengalaman di jalan malam ini menambah koleksi "cerita jalanan" yang pernah aku dapat. Bukan hanya soal kehilangan, kecopetan tapi banyak sekali hal yang bisa terjadi dijalanan. Jadi kita mesti waspada dan berhati-hati, terutama buat para wanita angkoters alias penggemar angkot alias harus naik angkot. Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi ketika malam saja tapi siang juga mungkin sekali. Dimana ada kesempatan dan mereka punya peluang maka jadilah.

    Akhir dari tulisan ini aku ingin sekali menyatakan salah satu resolusi di tahun 2014 yaitu “rasa aman dan nyaman dalam angkutan umum”. Amiiinnn…
    [REPOST dari postingan gw di blog tetangga - dengan judul yang berbeda]

    0 comments:

    Post a Comment