• RSS

Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah dimana. Cara itulah yang bermacam-macam dan disanalah harga kreativitas ditimbang-timbang ~ SENO GUMIRA AJIDARMA

  • Journey

    Cerita perjalanan yang tak melulu soal "have fun" tapi juga tentang petualangan di hiruk pikuknya Ibu Kota... Let's ENJOY JAKARTA!

  • Hoby

    Mengurai ketegangan urat saraf, membuang jauh jenuh dan bosan, berdamai dengan realita, yuks... mencoba dan melakukan "sesuatu"

  • Share

    Tulislah... setidaknya agar anak cucumu tau kalau kamu juga punya masa lalu, karena menulis itu membuat kita hidup 1000 tahun...

  • Foto-foto berikut adalah foto St. Lenteng Agung sebelum kena gusur PT. KAI.

    Stasiun Lenteng Agung

    Salah satu kios @St. Lenteng Agung

    Pagi itu ketika turun dari kereta, miris banget ngeliat para penjual di kios-kios mengepak barang dagangannya. Aku inget betul seorang ibu penjual kalender dan pernak-pernik hiasan dinding lainnya, beliau yang biasanya membuka kios paling pagi dari pedagang lainnya pun sibuk mengemas pigura foto, aneka kaligrafi dan lukisan ke dalam box-box kardus. Surat edaran untuk mengosongkan kios sudah mereka terima sekitar tiga bulan sebelumnya. Meski sulit diterima namun mereka tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah itu. Karena eksekusi lahan akan segera dijalankan minggu itu juga. Kios tempat mereka mencari nafkah bertahun-tahun akan di hancurkan tanpa sisa. Bagi mereka yang telah membayar iuran untuk setahun, menuntut uang kembali adalah hal yang mustahil akan terwujud. Pergi dan mengikhlaskan cuma itu yang bisa dilakukan.

    Komplek Ruko @St. Lenteng Agung

    Masih cukup pagi sekitar jam delapan ketika aku sampai di kantor. Saat itu cuma ada Pak Bos sama Pak HZ. Aku ceritakan apa yang aku liat, dan tanggapan mereka yang juga telah mengetahui kondisi tersebut beberapa hari lalu adalah "kasian ya mereka". Ya sungguh kasian... kalo dipikir-pikir... apakah hak hidup mereka dirampas? ataukah mereka hanya menyerahkan kembali apa yang bukan menjadi hak-nya? hmmmm sulit memang...

    Bosku keluar kantor sebentar karena ingin membeli minuman. Hingga tak berapa lama beliau kembali.

    "Dian... aku ada berita buruk...", katanya mengawali informasi yang akan disampaikan.
    "Berita apa pak?", sanggahku ga sabar dengan apa yang ingin disampaikan.

    Sama sepertiku, Pak HZ juga terlihat tak sabar mendengar lanjutan ceritanya. Ada apa sih? rasa penasaran kami sepertinya sudah mulai naik ke ubun-ubun.

    "Kita kena gusur juga...", lanjut Pak Bos dengan nada agak tinggi.
    "Ahhh masa sih Pak?" tanyaku juga dengan suara yang ikut-ikutan meninggi karena terlalu terkejut.
    "Iya bener, aku barusan dikasih tau sama ibu pemilik warung itu. Dan kita dikasih waktu dua hari untuk beres-beres", seperti itu penjelasan singkat darinya.

    Ya Alloh berita yang cukup mengejutkan pada saat itu. Lokasi kantor kami memang masih dalam lingkup lahan PT. KAI namun yang kami tau sebelumnya hanya kios-kios saja yang akan digusur tidak termasuk ruko-ruko. Ketika berita ini disampaikan secara resmi oleh "pihak pengurus" beberapa menit setelah kami mendengarnya lebih dahulu dari mulut kemulut, pikiran kami kalut. Meski kantor kami disana baru berdiri sekitar tiga bulan tapi iuran yang dibayarkan sudah untuk satu setengah tahun kedepan.

    Berita itu sukses membuat konsentrasi dan semangat kami untuk bekerja hilang. Kami ga sempat untuk berdebat, ngotot-ngototan, adu urat syarat, juga tak ada waktu untuk bersedih. Pak Bos sangat berbesar hati, mencoba mengikhlaskan kehilangan. Bukan sekedar kehilangan kantor yang baru saja dirintis tapi juga kehilangan sejumlah modal usahanya.

    Ternyata pagi itu bukan hanya pedagang di kios-kios yang harus dikasihani melainkan kami sendiri. Kami memang sempat mengabaikan peringatan-peringatan tentang ijin dari ruko, tapi apapun itu yasudahlah ikhlas adalah hal yang harus kami taklukan. Peraturan PT. KAI adalah keputusan mutlak untuk membuat dunia transportasi menjadi lebih baik lagi seperti sekarang.

    Kita tidak pernah tau apa yang menjadi rencana-Nya. Buat kami pada saat itu bertahan satu, dua atau tiga bulan kedepan tidak terbayangkan seperti apa. Ketika tidak ada project yang menghasilkan... hanya doa dan perjuangan tanpa henti yang kami bisa lakukan. Keyakinan penuh pada-Nya smoga meridhoi usaha kami.

    Hari ini [26 Februari 2014] hampir 17 bulan PT. AAS berdiri. Di Tanjung Barat kami melanjutkan perjuangan, mengumpulkan receh demi receh hingga lembar demi lembar dari sebuah nilai. Sebelumnya... aku kadang menjadi juru kunci, datang paling awal dan pulang paling akhir. Tiga sampai empat jam saja lalu pulang sehabis zuhur. Setel mp3 kenceng-kenceng untuk memecah sunyi, bengong di depan jendela menghapus jenuh, sambil merasakan semilir angin sepoi-sepoi tanpa seorang pun tau.

    View dari jendela kantor Tanjung Barat

    Kini terasa berbeda, dan ini bukan perubahan secara instan. Disini aku ikut berproses, menjadi saksi hidup dari perjuangan AAS mendapatkan project demi project. Menyaksikan langsung rekruitment demi rekruitment hingga 14 karyawan telah bergabung. Merasakan langsung suasana sepi sendirian sampai ramai penuh tawa dan debat. Mengikuti pembentukkan satu persatu divisi. Pastinya tidak mudah tapi kami masih berjuang dan akan terus berjuang mempertahankan apa yang sudah kami mulai. InsyaAlloh. Go go AAS...

    Akhir kata, untuk kita semua... Terus berjuang wujudkan apa yang kita impikan dan cita-citakan, lalu biarkan Alloh yang berkehendak atas hidup kita...


    0 comments:

    Post a Comment