• RSS

Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah dimana. Cara itulah yang bermacam-macam dan disanalah harga kreativitas ditimbang-timbang ~ SENO GUMIRA AJIDARMA

  • Journey

    Cerita perjalanan yang tak melulu soal "have fun" tapi juga tentang petualangan di hiruk pikuknya Ibu Kota... Let's ENJOY JAKARTA!

  • Hoby

    Mengurai ketegangan urat saraf, membuang jauh jenuh dan bosan, berdamai dengan realita, yuks... mencoba dan melakukan "sesuatu"

  • Share

    Tulislah... setidaknya agar anak cucumu tau kalau kamu juga punya masa lalu, karena menulis itu membuat kita hidup 1000 tahun...

  • Seperti biasa aku senang duduk-duduk di depan pintu. Tak peduli kata orang “pamali”. Buatku berada disini adalah suatu ketenangan. Setidaknya taman kecilku dapat mengubah suasana hati dan menyegarkan mata. Merasakan hembusan angin sepoi-sepoi. Menghirup aroma tanah dan dedaunan. Memperhatikan orang-orang lalu lalang yang sesekali menengok kearahku. Dan bermain-main dengan anak-anak kucing kesayangan. Berjam-jam menghabiskan waktu bukan saja soal melamun, tapi juga mengerjakan pekerjaan rumah, menghapalkan lagu nasional untuk upacara bendera, menunggu mama pulang, main boneka-bonekaan, masak-masakan sampai makan siang.  Tidak ada yang bisa mengusirku. Jika ada yang mau lewat, yaa lewat saja.

    Yang aku tau berada di depan pintu, membuat aku tidak merasa kesepian. Banyak orang yang berjalan kesana kemari. Terdengar suara abang-abang tukang makanan atau mainan menjajakan jualannya. Pandanganku bebas menatap langit yang aku yakini Tuhan berada disana. Karenanya ketika menatap langit aku merasa Tuhan melihat ku juga, sehingga aku tidak sendiri. Keyakinan yang dibentuk dari kecil, katanya Tuhan menetap di langit. Sampai akhirnya kini aku tau Tuhan tidak di sana. Rumah Tuhan bukan di langit. Namun tidak tau kenapa hati ini selalu damai menatap langit. Seperti kumpulan lamunan masa kecil yang menyenangkan. Merangkai awan dalam khayal. Membayangkan terbang tinggi ke langit bersama burung-burung. Loncat-loncat di awan. Meniup balon-balon sabun lalu diterbangkan oleh angin. Dan mungkin karena itu tanpa aku sadari aku menyukai warna biru. Biru itu menentramkan, biru itu kedamaian, biru itu menenangkan, biru itu kebersamaan, biru itu kenyamanan.

    Ketika hari mulai malam, dimana langit tidak lagi berwarna biru. Sepi itu datang lagi. Bukan suasana sepi maksudku. Karena ada bising yang menyayat, perdebatan panjang tanpa ujung, teriakan-teriakan keras bersahutan, gebrakan meja mengagetkan yang sangat akrab menemaniku. Saat aku tidak berani keluar rumah dan terjebak suasana itu. Bahkan tayangan televisi tidak mampu memecahkan sepi itu. Sepi dan takut... (InsyaAllah To Be Continue ^_^)

    0 comments:

    Post a Comment