• RSS

Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah dimana. Cara itulah yang bermacam-macam dan disanalah harga kreativitas ditimbang-timbang ~ SENO GUMIRA AJIDARMA

  • Journey

    Cerita perjalanan yang tak melulu soal "have fun" tapi juga tentang petualangan di hiruk pikuknya Ibu Kota... Let's ENJOY JAKARTA!

  • Hoby

    Mengurai ketegangan urat saraf, membuang jauh jenuh dan bosan, berdamai dengan realita, yuks... mencoba dan melakukan "sesuatu"

  • Share

    Tulislah... setidaknya agar anak cucumu tau kalau kamu juga punya masa lalu, karena menulis itu membuat kita hidup 1000 tahun...


  • Dalam perjalanan pulang ini sambil makan camilan, sambil menikmati pemandangan di luar jendela dan mencoba untuk mengumpulkan semangat, menyiapkan diri juga mental untuk jempalitan menghadapi rutinitas kembali besok. Sedikit cerita tentang kekaguman dan impianku di Jogja. Ini dia ceritanya..

    Banyak sekali kekagumanku pada kota ini. Walaupun kota ini bukan kota kelahiranku dan bukan pula kota dimana aku dibesarkan. Tapi aku sangat nyaman berada disini. Aku mengenal Jogja dari kedua orang tuaku, karena Jogja merupakan tempat dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan. Banyak predikat melekat pada kota ini. Jogja sebagai Kota Perjuangan, Kota Budaya, Kota Pelajar dan juga Kota Wisata. Aku salut dengan peradapan, kekeluargaan dan keakraban antar satu dengan yang lainnya serta cara pergaulannya. Aku bangga dengan sopan santun, ramah tamah, kepolosan dan pastinya kedisiplinan yang berkembang disini.

    Kedisiplinan yang aku maksud terlihat jelas ketika berada di lampu merah. Semua kendaraan patuh untuk berhenti walaupun jalan itu sepi dan tidak diawasi polisi. Tidak seperti di Jakarta lampu hijau berarti jalan, lampu merah berarti berani dan lampu kuning berarti hati-hati atau jalan pelan-pelan. Yang intinya adalah jalaaan terusss, seperti semangat juang para pahlawan kita yaitu maju terus pantang mundur. Jalan disini memang kecil-kecil, namun terlihat tertib dan lancar. Ada jalan khusus untuk sepeda, ada jalur khusus untuk parkir. Semua difungsikan sesuai dengan fungsinya. Jalan raya difungsikan untuk kendaraan beroda dua atau empat, bukan untuk parkir atau pedagang kaki lima. Trotoar difungsikan untuk pejalan kaki dan bukan untuk motor.

    "Kepedulian bukan berarti memberi" begitu tulisan yang tertera pada spanduk-spanduk yang dipanjang sudut-sudut jalan. Budaya MALU untuk meminta-minta ditorehkan dalam hati tiap orang. Sehingga di terminal, di lampu merah ataupun di pinggiran jalan tidak ada pengemis dan juga pengamen berkeliaran. Para pengamen hanya ada di tempat-tempat wisata, dan mereka bukan pengamen sembarangan karena tak jarang dari mereka membawa alat musik lengkap serta berpakaian rapi dan pastinya bersuara merdu, yah merekalah seniman jalanan sebenarnya.

    Jogja memang kota pelajar, karena banyak sekali pelajar dari luar kota sampai dari luar negeri belajar disini. Sopan santun ditanamkan semenjak di bangku SD (tapi pastinya yang pertama adalah dari keluarga), hal ini terlihat dari seragam sekolah yang sebenar-benarnya dan semestinya. Tidak ada pelajar wanita yang berpakaian serba mini dan ketat karena kekurangan bahan. Begitupun dengan pelajar laki-laki tidak ada corat coret di baju dan celana mereka. Omongan mereka terjaga ketika berada di tempat umum, tidak jejeritan menggerutu soal pelajaran ataupun soal guru-guru mereka, juga tidak ada celotehan kasar atau jorok dari mulut mereka. Penampilan mereka jujur dan polos, tidak norak dan tidak juga memamerkan aneka gadget model baru yang mereka dapat dari orang tua mereka.

    Cuma satu kali dalam setaun aku ke kota ini, dan tiap tahunnya aku selalu menyimpan mimpi disini. Ya Allah jika engkau izinkan aku ingin tinggal dan menetap disini suatu hari nanti. Bukan karena ingin lari dari kesemrawutan kota Jakarta, bukan juga karena ingin menghilang dan meninggalkan teman-teman yang aku sayangi dan menyayangiku. Tapi entah karena apa?? rasa kekagumanku membuatku tenang dan nyaman berada disini.

    Namun kali ini aku masih harus kembali ke Jakarta lagi dan lagi, Jogja tunggulah aku kembali kepadamu. Entah hanya untuk berlibur atau bisa saja Allah SWT mewujudkan impianku untuk tinggal bersamamu suatu hari nanti. See you..

    0 comments:

    Post a Comment